Iklan ADS

Friday, September 1, 2017

Andre Barros

Kisah Perjuangan Seorang Ibu

Sore ini disebuah warkop kecil masih seperti biasanya saya mencari kopi untuk menemani senja sebelum malam tiba, sudah sering saya menikmati kopi ditempat ini sambil menatap senja di tempat ini, tapi kali ini sepertinya ada yang aneh, ko sepi sekli, orang orang pada kemana sih ? pikir-Ku dalam hati sambil meneguk secangkir kopi hangat yang baru saja di antar sama seorang nenek tua rambutnya sudah separuh putih, Ia adalah pemilik warkop, sebut saja namanya Hary usianya sekitar 70-an.

Gambar/http/google.com

Biasanya tempat ini selalu penuh antara 7-9 orang , mkalum tempaatnya kecil, tapi punya daya tarik tersendiri sehingga setiap kali saya mampir tidak pernah kosong, mungkin karena sedikit terbuka dan jauh dari jalan raya, sehingga mebuat para penikmat kopi sealalu merasa tenang, belum lagi nuansa klasik dengan tampil beberapa lukisan tangan  sang suami yang terpajang di dinding tembok, tapi lukisan-lukisan itu sepertinya sudah lama tidak tersentuh tangan manusia beberapa tahun, karena terlihat sarang laba-laba yang membalut tiap sudut bingkai lukisan.

Karena tidak ada teman cerita akhirnya saya mengajak bu Hary untuk bercerita, Ia memiliki 4 orang anak tiga orang perempuan dan satunya laki-laki, ketiga orang putrinya sudah menikah dan tinggal bersama suami mereka, sedangkan bu Hary bersama putra bungsunya yang bernama Rio usianya 37,
Rio cacat fisik sejak lahir, hal ini membutnya hanya berada dirumah, ketiga putrinya tidak pernah kerumah 5 tahun terakhir setelah Ayah mereka meninggal.

Dengan usia yang seharusnya sudah istirahat dirumah sambil menikmati masa tuanya, namun apa boleh buat, takdir berkata lain. Bu Hary harus bekerja keras untuk bertahan hidup bersama sang buah hatinya, Ia mulai bekerja dari pagi hingga pukul 19 dengan panghasilannya hanya untuk mencukupi makan dan minum mereka berdua. 

Bu Hary sangat ramah orangnya, di selah-selah kesibukannya, Ia selalu menyisihkan waktu untuk mengurus Rio. Usaha warkop kecilnya dirilis bersama suaminya sejak tahun 78 kemudin Ia mengurunya seorang diri sejak lima tahun terakhir.


Gambar/http/google.com
Suasana semakin larut, saya pun terhanyut dalam cerita Bu Hary, terlihat jelas di kedua bola matanya yang menunjukan kekwatirannya akan masa depan  si Rio anak satu-satunya yang dirawatnya selama 37 tahun, dengan bibir yang gematar menahan tangis akan kesedihanya seakan Ia telah lihat kematiannya sendiri, Ia memaksakan diri untuk tetap bercerita.

"Nak, Usia saya tidak mudah lagi, jika terjadi sesuatu pada saya kasian si Rio, seperti apa masa depannya, kakak perempuanNya sibuk ngurus rumah angga mereka, kasian Rio". ucap-Nya sambil menahan tangis.

Saya terdiam lama mendengarnya, hati saya betul-betul hancur seketika, senjaku yang ditemani kopi hangat tidak lagi senikmat biasanya. Betapa mulianya hati seorang Ibu, usianya yang tinggal selangkah lagi namun Ia tidak peduli dengan dirinya, bahkan penyakit yang dideritanya dua tahun belakangan ketika sempat dirawat dirumah sakit seminggu dan divonis oleh Dokter rumah sakit setempat, bu Hary menderita kanker rahim, selama ini Ia diam-diam menyembunyikan semua itu dari anak-anaknya, terutama Rio karena Ia tidak ingin melihat anaknya sedih.

Cerita ini hanyalah karya Fiksi, mohon maaf jika terdapat kesamaan nama dan alur cerita yang mungkin mirip dengan kisah pembaca.

Andre Barros

About Andre Barros -

Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo.

Subscribe to this Blog via Email :