Iklan ADS

Wednesday, August 30, 2017

Andre Barros

Wellcome My September

Perlahan tercium diujung agustus wangi semerbak bunga aster, seolah ingin memeberitahu bahwa moment istimewa itu akan kembali menyapa setelah setahun ia pergi. Semakin agustus menghilang dari hitungan, wanginya semakin tercium disetiap sudut arah angin menuju. Ah !!! Ternyata september hampir tiba.



Hmmmmmm...tidak terasa sebuah perjalanan panjang dengan berjuta rasa telah dilalui puluhan tahun lamanya. Berbagai macam kisah pahit dan manis, suka dan duka, terekam dengan jelas dalam memori.

September kembali menyapa untuk puluhan kalinya dalam hidup. Hidup yang penuh misteri akan hari esok. Septemeber kembali mengingatkanKu pada masa kakak-kanak selama sembilan tahun berada di tanah kelahiran, sembilah tahun dilalui dengan berbagai situasi politik yang saat itu tidak stabil, hal ini membuat saya bertumbuh dengan kekwatiran selama sembilan tahun, para orangtua pun selalu mencemaskan masa depan anak-anaknya saat itu.

Situasi ini kemudian memuncak pada 30 Agustus 1999 dan memecah belah masyarakat Timor Timur menjadi dua kelompok, yakni kelompok yang pro kemerdekaan dan kelompok pro otonomi, kelompok masyarakat yang memilih otonomi dalam artian tetap bersama Indonesia terpaksa harus mengungsi ke wilayah Indonesia tepatnya di daerah perbatasan Kabupaten Belu. Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Saya dan keluarga termasuk kelompok yang memilih otonomi dan sampai hari ini masih menetap di Atambua.

Disana kami memulai sebuah kehidupan baru dari awal, yang semuanya serba baru, lingkungan baru, orang-orang baru, dan sebuah peradaban baru, di Atambua saya mulai menempuh pendidikan dasar disana hingga tamat Sekolah Menengah Akhir (SMA) pada tahun 2011 dengan keadaan ekonomi keluarga yang jatuh bangun saat itu, Pekerjaan Ayah saya hanyalah seorangg petani yang tidak punya lahan untuk digarap, kemudian beralih profesi menjai buru kasar, berbagai jenis pekerjaan dilakukanNya demi keluarga, sedangkan Ibu saya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa.

Pada tahun 2011 sehabis SMA saya menganggur diluar sambil jaga bengkel kecil punya Paman Sergio hingga tahun 2012.

Saat sedang kerja tiba-tiba ada suara dari belakang, suara yang sepertinya sering saya dengar, tapi siapa ya? wah ternyata teman lamaku saat masih aktif di Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santa Maria Fatima Nurobo, Dia bekerja disebuah kantor Tenaga kerja di tempat saya.

A : Apakabar Ros? Sambil berjabat tangan.

B : Puji Tuhan baik, bagaimana kabar kamu?

A : yaaaaaaa seperti yang kamu lihat sekarang.

Setengah jam basi tentang informasi seputar OMK, Ia kemudian meminta saya untuk, membantunya merekrut tenaga kerja tujuan Malaisya, tanpa pertimbangan saya menwarkan diri untuk menjadi tenaga kerja. Singkat cerita, tepat bulan agustus 2012 saya berangkat ke Malaisya dan bekerja di sebuah Perusahaan perkebunan sawait di daerah Kelantan Malaisya Barat.

Dua tahun bekerja sebagai tenaga kerja, suka maupun duka dialami. Selama dua tahun disana kami mengalami perlakuan tidak baik, dari orang-orang di perusahaan, baik itu Malayu maupun China, namun bukan berarti semua orang Malayu atau China jahat, saya masih ingat beberapa teman orang Malayu yang selalu membantu saya dan teman-teman. Satu masalah yang paling sering itu, masalah gaji atau upah, kami dibayar tidak sesuai dengan waktu dan tenaga, yaaa begitulah hidup, ketidak adilan selalu terjadi dimana-mana karena kepentingan.

Dua tahun bekerja disana hingga agustus 2014 saya memutuskan untuk pulang setelah kontrak saya selama dua tahun selesai. Sebulan berada di rumah, kemudian pada 19 september 2014 saya kembali merantau ke Malang, kali ini saya tidak memilih untuk kerja tapi saya memilih untuk kulia di salah satu Universitas Swasta di Malang hingga saat sekarang. Begitulah cerita singkat tentang perjalanan saya selama puluhan tahun.

Terimakasih Tuhan, atas anugerah kehidupan yang Kau berikan, terimakasih Ayah, sudah menjadi pahlawan tangguh, cepat sembuh dan mari kita sama-sama bertarung lagi, hidup memang keras tapi menyerah bukanlah solusi, itu yang kau ajarkan. Untuk Ibu, terimakasih sudah merawat menjaga dengan penuh kasih, jika suatu saat saya tidak lagi bernyawa, saya ingin dikuburkan kembali dalam rahimmu.

Terimaksih untuk keluarga besar, sahabat, kenalan dan siapa saja yang sudah berbesar hati dalam membantu proses perkuliahan saya hingga saat ini, Tuhan memberkati kalian semua.

Andre Barros

About Andre Barros -

Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo.

Subscribe to this Blog via Email :

2 komentar

Write komentar
April 13, 2018 at 6:38 AM delete

Saya ingin kembali dikubur dalam rahimmu....ibu..
Mantap jiwa bang

Reply
avatar
Andre Barros
AUTHOR
April 14, 2018 at 8:52 AM delete

Makasih Adik, sertakan link mu blogmu di kolom komentarnya

Reply
avatar