Iklan ADS

Saturday, August 5, 2017

Andre Barros

Proses itu tidaklah muda

Proses itu tidaklah muda
Oleh Nyongkayt


Hidup ini tidak ada yang selalu berjalan mulus, terkadang kita di landa dengan berbagai masalah. Banyaknya masalah terkadang mebuat kita menyalahkan orang tua dan bahkan ekstrimnya Tuhan pun kita salahkan, gejolak derasnya arus perkembangan dunia yang semakin moderen, menuntut kita harus hidup yang lebih layak tanpa kita peduli akan sesama kita. Namun perlu kita sadari bahwa semuanya itu hanya sementara, ketika kita terjerumus dalam jurang modernisasi yangg begitu dalam, maka kita pun akan menjadi mahkluk yang prakmatis, mahkluk yang egois, yang mebuat kita hanya mementingkan kesenangan pribadi, di bandingkkan dengan orang-orang yang kita cintai, orang – orang yang kita banggakan, dan orang yang kita berjuang untuk mereka terutama orang tua.

Hal ini sering terjadi dalam kehidupan kita mahasiswa yang nota bene hidup di tanah perantauan. Kita akan dilema dan dihantui beribu banyaknya pertanyaan, kenapa saya harus dikirim di sini ?, dan kenapa seakan – akan saya di lupakan ?, pertanyaan - pertanyaan seperti inilah yg terkadang mebawa dampak kebingungan dalam menentukan nasib kita. Padahal yang seharus nya kita sadari bahwa kita di kirim oleh orang tua, karena orang tua telah percaya kita bisa, orang tua percaya bahwa kita adalah petarung keluarga yang di jagokan ole keluarga demi mengubah masa depan kita yang cerah. Dengan semua itulah akhirnya di peras dalam sebuah julukan yang di berikan kepada kita mahasiswa yakni agen of change atau agen perubahan.

Seorang agen perubahan tidak akan peduli apa yang akan terjadi pada dirnya. Dan yang seharusnya seorang agen perubahan mampu melawan dan mengalahkan segala bisikan setan yang menjerumusnya ke dalam ketidak pastian yang sehingganya akan membawa kita menuju kehancuran. Akan tetapi terlepas dari itu semua kita masih dalam kondisi yang sangat dilematis. Pendidikan yang menitikberatkan pada penciptaan cara berpikir mahasiswa yang tegas dan berani dalam menangani persoalan – persoalan hidup serta kehidupan merupakan sebuah jalan menuju kehidupan yang lebih baik, terkadang itu yang tidak di jalankan. Kampus sudah tidak lagi menjadi arena pertarungan argumen, tetapi yg hironis terjadi adalah kampus di jadikan sebagai tempat pertaruungan kaum elit yang mempunyai kepentingan.

Proses dinamika yang memicu berbagai problem yang dinamis, menciptakan kader – kader bangsa yang egois. Hal ini bertentangan dengan apa yang menjadi cita – cita bangsa dan keluarga. Penanaman nilai – nilai moral yang di pupuk tanpa sebuah landasan ideologis yang jelas akan menghasilkan para diktator penguasa yang prakmatis, apatis, dan pesimis akan sesuatu yang di perjuangkan. Sekali lagi semuanya itu bertentangan dengan harapan bangsa keluarga dan bahkan orang tua. Karena pada dasarnya terlebih khusus setiap orang tua, mengiginkan yang terbaik untuk anaknya. Setiap oorang tua menginginkan anak patuh, patuh terhadap mereka dan patuh terhadap nusa dan bangsa. Mereka akan merasa bahagia ketika anak mereka sukses sesuai denggan harapan besar yang mereka bangun.

Sementara itu, setiap orang tuapun berkeinginan untuk mendidik dan membantu anaknya untuk memiliki kepribadian yang baik, anak yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, anak yang berbakti kepada orang tua, keluarga, masyarakat, dan bahkan terhadap nusa dan bangsa. Namun apa hendak di kata, terkadang harapan tinggal harapan semata. Mimpi tak menjadi kenyataan. Bagai bulan merindukan matahari. Kenyataan yang amat bertentangan dengan harapan. Malah itu yang harus di hadapi dan harus mereka terima. Sungguh amat sakit, pahit dan getir sekali. Apakah itu sudah menjadi suratan takdir ?, akhir dari segala urusan kembali kepada Tuhan. Akan tetapi manusia sebagai hamba nya diwajibkan untuk berusaha dengan segala daya tanpa berputus asa. Pada hakikatnya pelayanan tersebut merupakan proses pendidikan. Untuk itulah orang tua di sebut sebagai pendidik pertama.

Kekhawatiran orang tua terhadap sang buah hati pada arus pergaualan yang kini semakin bebas, melunturnya nilai – nilai agama, dan semakin rusaknya moral generasi muda yang kini banyak di beritakan di media masa, seperti kejahatan yang melibatkan anak sebagai pelaku maupun korbannya, di perlukan upaya cerdas untuk menanggulangi bahaya dampak negatif globalisasi. Orang tua merupakan tokoh utama dalam membentuk karakter, kepribadian, dan tempramen anak. ( Surbakti 2012 ). Namun terkadang kita sebagai anak tidak menuruti perintah – perintah orangt tua kita sendiri. Kita lebih senang dengan tuntutan kita tanpa mempedulikan kondisi ekonomi orang tua kita. Atau dengan kata lain kita lebih mimilih senang di atas penderitaan orang tua. Banyak fenomena yang terjadi, di mana terkadang ada sebagian orang tua yang pasrah dan menyerah dengan tuntutan – tuntutan anak – anak mereka yang melebihi batas orang tuanya. Tidak di pungkiri lagi, hal ini sering terjadi sehingganya membatalkan tujuan dan cita – cita kita.

Menjadi agen perubahan yang di harapkan oleh orang tua, adalah suatu anugrah dan kepercyaan yang amat mulia kepada kita. Sehingganya dalam upaya mempergunakan kepercayaan itu, haruslah di kukuhkan dengan semangat yang membara tampa mempedulikan liciknya arus globalisasi yang kadang menghantui kita terus – menerus dan membuat kita menindas akan kedua orang tua kita untuk memenuhi semua tuntutan hidup kita. Pemikiran – pemikiran sebagai seorang pejuang yang mengiginkan perubahan harus di utarakan dengan landasan cinta akan kedua orang tua kita. Karna yang perlu kita sadari adalah orang tua menjadi barometer perjuangan kita menuju masa depan kita yang ceria.

Andre Barros

About Andre Barros -

Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo.

Subscribe to this Blog via Email :